Laman

Tampilkan postingan dengan label Kota Bekasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Bekasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2014

Sejarah Kota Bekasi

gb
Gedung Patriot (Balai Kota Bekasi sebagai Kantor Walikota Bekasi)
Kota Bekasi memiliki sejarah. inilah sejarah kota Bekasi yang saya dapatkan dari website resmi pemerintah kota Bekasi ( www.bekasikota.go.id ).


Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, itulah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai Ibukota Kerajaan Tarumanagara (358-669). Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda KElapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu. Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, leatak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang.Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan Raja-Raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M) Raja Kerajaan Sunda (disebut pula Kerajaan Pajajaran) yang terakhir.

Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi infirmasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Diantaranya dengan ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan (piteket) dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521 M) yang ditulis dalam lima lembar lempeng tembaga. Sejak abad ke 5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara abad kea 8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke 14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).

Sejarah Sebelum Tahun 1949

Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari jaman ke jaman, sejak jaman Hindia Belanda, pundudukan militer Jepang, perang kemerdekaan dan jaman Republik Indonesia. Di jaman Hindia Belanda, Bekasi masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis. Saat itu kehidupan masyarakatnya masih di kuasai oleh para tuan tanah keturunan Cina.

Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang. Pendudukan militer Jepang turut merubah kondisi masyarakat saat itu. Jepang melaksanakan Japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran dan Gun Matraman.Setelah proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama Ken menjadi Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son menjadi Kecamatan dan Kun menjadi Desa/Kelurahan. Saat itu Ibu Kota Kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mula-mula di Tambun, lalu ke Cikarang, kemudian ke Bojong (Kedung Gede).

Pada waktu itu Bupati Kabupaten Jatinegara adalah Bapak Rubaya Suryanaatamirharja.Tidak lama setelah pendudukan Belanda, Kabupaten Jatinegara dihapus, kedudukannya dikembalikan seperti zaman Regenschap Meester Cornelis menjadi Kewedanaan. Kewedanaan Bekasi masuk kedalam wilayah Batavia En Omelanden. Batas Bulak Kapal ke Timur termasuk wilayah negara Pasundan di bawah Kabupaten Kerawang, sedangkan sebelah Barat Bulak Kapal termasuk wilayah negara Federal sesuai Staatsblad Van Nederlandsch Indie 1948 No. 178 Negara Pasundan.

Sejarah Tahun 1949 sampai Terbentuknya Kota Bekasi

Sejarah setelah tahun 1949, ditandai dengan aksi unjuk rasa sekitar 40.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Februari 1950 di alum-alun Bekasi. Hadir pada acara tersebut Bapak Mu’min sebagai Residen Militer Daerah V. Inti dari unjuk rasa tersebut adalah penyampaian pernyataan sikap sebagai berikut :
Rakyat bekasi mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat agar kabupaten Jatinegara diubah  menjadi Kabupaten Bekasi. Rakyat Bekasi tetap berdiri di belakang Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah) dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto "SWATANTRA WIBAWA MUKTI".

Pada tahun 1960 kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke kota Bekasi (jl. H Juanda). Kemudian pada tahun 1982, saat Bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah Gedung Perkantoran Pemda Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. A. Yani No.1 Bekasi. Pasalnya perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya Kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi yang terdiri atas 4 kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1981, yaitu Kecamatan Bekasi Timur, bekasi Selatan, Bekasi Barat dan Bekasi Utara, yang seluruhnya menjadi 18 kelurahan dan 8 desa.

Peresmian Kota Administratif Bekasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982, dengan walikota pertama dijabat oleh Bapak H. Soedjono (1982 – 1988). Tahun 1988 Walikota Bekasi dijabat oleh Bapak Drs. Andi Sukardi hingga tahun 1991 (1988 - 1991, kemudian diganti oleh Bapak Drs. H. Khailani AR hingga tahun (1991 – 1997) 

Pada Perkembangannya Kota Administratif Bekasi terus bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan roda perekonomian yang semakin bergairah. Sehingga status Kotif. Bekasi pun kembali di tingkatkan menjadi Kotamadya (sekarang "Kota") melalui Undang-undang Nomor 9 Tahun 1996 Menjabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi saat itu adalah Bapak Drs. H. Khailani AR, selama satu tahun (1997-1998).

Selanjutnya berdasarkan hasil pemilihan terhitung mulai tanggal 23 Pebruari 1998 Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi definitif dijabat oleh Bapak Drs. H Nonon Sonthanie (1998-2003). Setelah pemilihan umum berlangsung terpilihlah Walikota dan Wakil Walikota Bekasi yaitu : Akhmad Zurfaih dan Moechtar Muhammad (perode 2003 - 2007).

Setelah Ahmad Zulfaih lengser, terpilihlah Moechtar Muhammad yang sebelumnya menjadi Wakil Walikota menjadi Walikota Bekasi periode 2007 sampai 2012 didampingi oleh Dr. H. Rahmat Effendi sebagai wakilnya. Dan sekarang Walikota Bekasi adalah Dr. H. Rahmat Effendi yang sebelumnya juga menjabat sebagai Wakil Walikota pada periode 2007-2012. Dr. H. Rahmat Effendi sekarang didampingi oleh H. Ahmad Syaikhu sebagai Wakil Walikota untuk peiode 2012-2017. 


Semoga ini bermanfaat untuk para pembaca. :)

Senin, 02 September 2013

Makanan Khas Bekasi di saat Lebaran


Di saat lebaran saya iseng ingin membuat postingan tentang makanan khas Bekasi yang ada di ruma-rumah pada saat lebaran. pada saat lebaran tidak hanya ada makanan ringan modern yang tertata rapi di meja tamu. namun, ada beberapa makanan tradisional khas bekasi yang sering masyarakat bekasi sajikan di meja tamu untuk menjamu saudara serta kerabat dekat yang akan bersilaturahmi ke rumah untuk berlebaran saling berma'afan. 

Banyak sekali makanan untuk camilan yang biasanya disajikan di meja tamu pada saat lebaran. biasanya yang hanya ada pada saat lebaran saja adalah dodol bekasi. namun, selain dodol bekasi ada pula berbagai macam makanan camilan khas bekasi lainnya. antara lain ada kue akar kelapa, kue wajit ketan khas bekasi, kue telor gabus, kue tenteng, kue semprong, dan kue biji ketapang.

1. Dodol Bekasi
Tak hanya Garut saja yang mempunyai dodol, Bekasi pun punya dodol yang khas. Dodol bekasi ini biasanya ada di meja-meja tamu orang bekasi hanya pada saat lebaran idul fitri saja. Masyarakat bekasi biasanya dengan sengaja membuat dodol di rumah mereka masing-masing dengan keluarga besarnya. Namun, jika tidak ingin ribet kita hanya tinggal memesan kepada tetangga atau orang-orang yang memang sudah sering membuat dodol bekasi di saat menjelang lebaran. karena membuat dodol itu sangat sulit dan cukup lama. jika tidak sabar maka hasilnya tidak akan memuaskan. jadi yang ingin aman dan tidak ribet lebih memilih untuk membeli saja di tempat-tempat yang sudah mereka percaya.

2. Kue akar kelapa

Kue akar kelapa ini pun sering disajikan pada saat lebaran. rasanya yang unik, renyah, gurih, dan biasanya terdapat biji wijen yang ada di kue ini. 

3. Wajit ketan khas Bekasi
 Wajit ketan ini juga sering disajikan di meja tamu pada saat lebaran. Dengan tampilan bungkusnya yang beraneka warna membuat kita untuk mencicipinya dan juga memperindah warna-warna yang ada di meja tamu. Rasanya yang manis mempermanis meja tamu dan membuat suasana menjadi penuh dengan kekeluargaan.

5. kue telor gabus

kue ini pun sering kita lihat di meja-meja tamu orang bekasi pada saat lebaran. lagi-lagi rasanya yang gurih dan renyah menjadi ciri khas makanan ini. banyak pula kreasi makanan ini, ada yang rasanya asin tanpa diberi gula adapula yang diberi gula agar manis, dan berbagai kreasi lainnya. 

6. Kue semprong



Kue ini sangat renyah dan ada yang berbentuk seperti pipa di lampu semprong. Maka diberilah nama kue semprong. Kue ini pun sudah banyak dikreasikan, mulai dari bentuk sampai campuran rasanya.

7. Kue biji ketapang

kue ini juga sering disajikan di meja tamu pada saat lebaran. Sama seperti kue-kue di atas, kue ini pun sangat renyah sehingga jika kita memakannya berasa seperti memakan biji ketapang. dengan bentuk yang mirip dengan biji buah ketapang. Maka dinamakanlah makanan ini dengan sebutan biji ketapang.

Macam-macam kue yang telah saya uraikan di atas adalah sebagian dari makanan-makanan khas dari Bekasi. Masih banyak lagi makanan kering dan basah yang biasanya kita temui di Bekasi. Namun, yang sering disajikan di meja tamu pada saat lebaran adalah kue-kue yang telah saya tuliskan.